MENAFSIR PERILAKU LATAH COPROLALIA PADA PEREMPUAN LATAH DALAM LINGKUP BUDAYA MATARAMAN: SEBUAH KAJIAN SOSIOPSIKOLINGUISTIK

PAMUNGKAS, SRI and DJATMIKA, DJATMIKA and SUMARLAM, SUMARLAM and NURKAMTO, JOKO (2017) MENAFSIR PERILAKU LATAH COPROLALIA PADA PEREMPUAN LATAH DALAM LINGKUP BUDAYA MATARAMAN: SEBUAH KAJIAN SOSIOPSIKOLINGUISTIK. MOZAIK HUMANIORA, 17 (2). pp. 273-290. ISSN 2442-935X

[img] Text
Artikel Latah Jurnal Mozaik Humaniora UNAIR.pdf

Download (304kB)
[img] Text
Artikel Latah Jurnal Mozaik Humaniora UNAIR-cek turnitin.pdf

Download (4MB)

Abstract

Latah merupakan perilaku yang tidak bisa lepas dari kungkungan sosial budaya yang melingkupi. Perilaku latah muncul ketika seseorang dalam kondisi kesadaran menurun akibat tepukan, jatuhnya sebuah objek, atau kebisingan. Reaksi yang ditunjukkan dari stimulus salah satunya adalah berupa perilaku latah coprolalia. Perilaku latah coprolalia merupakan perilaku latah verbal, yaitu berupa reaksi memunculkan bentuk lingual, baik berupa kata, frasa, maupun kalimat yang merujuk pada alat kelamin laki-laki atau perempuan. Pengungkapan bentuk lingual yang merujuk pada alat kelamin laki-laki atau peremnpuan tersebut terungkapkan dalam diksi bahasa daerah (baca: Jawa) dan tidak pernah ditemukan dalam bahasa Indonesia (bahasa nasional) dan bahasa asing (Inggris, Perancis, dan lain-lain). Pengungkapan bentuk lingual yang merujuk pada alat kelamin secara vulgar tersebut menggiring peneliti Barat membangun persepsi bahwa individu latah adalah orang-orang sakit jiwa atau berperilaku abnormal. Hal ini kemudian dianulir peneliti Indonesia dan sebagian peneliti luar negeri yang menegaskan bahwa perilaku tersebut muncul pada saat kesadaran seseorang menurun dan mereka akan hidup normal ketika kesadaran mereka penuh. Penelitian ini difokuskan pada perempuan latah yang berdomisili di Pacitan, Jawa Timur yang termasuk dalam lingkup budaya Mataraman, yang dalam berbahasa dan berbudaya merujuk pada Solo dan Yogyakarta. Yang menarik dalam penelitian ini adalah bahwa diksi yang terungkapkan antara penyandang latah pribumi dan pendatang mengalami sedikit perbedaan, utamanya dalam mengungkapkan alat kelamin lakil-laki dan perempuan. Diksi yang vulgar lebih tampak pada pribumi, sementara pada pendatang membuat kosakata baru yang tidak pernah ditemukan dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam kamus bahasa Jawa, dengan maksud untuk menyamarkan. Kata kunci: latah, Mataraman, perempuan, sosiopsikolinguistik

Item Type: Article
Subjects: H Social Sciences > H Social Sciences (General)
L Education > L Education (General)
Divisions: Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Depositing User: Muhammad Yusron Afif
Date Deposited: 12 Jul 2023 06:31
Last Modified: 12 Jul 2023 07:49
URI: http://repository.stkippacitan.ac.id/id/eprint/1154

Actions (login required)

View Item View Item