BAHASA MEGAWATI SOEKARNOPUTRI DALAM PIDATO HUT KE-50 PDI PERJUANGAN: KAJIAN PRAGMATIK

HANDAYANI, NILA (2025) BAHASA MEGAWATI SOEKARNOPUTRI DALAM PIDATO HUT KE-50 PDI PERJUANGAN: KAJIAN PRAGMATIK. Other thesis, STKIP PGRI PACITAN.

[img] Text
NILA HANDAYANI_PBSI_AB2024.pdf

Download (131kB)

Abstract

ABSTRAK Nila Handayani. Bahasa Megawati Soekarnoputri dalam Pidato HUT ke-50 PDI Perjuangan: Kajian Pragmatik. Skripsi. Pacitan: STKIP PGRI Pacitan, 2024. Bahasa dalam pidato harus disampaikan dengan jelas, terstruktur, dan santun agar pesan dapat diterima dengan baik oleh semua pendengar. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk pematuhan dan pelanggaran prinsip kesantunan berbahasa Megawati Soekarnoputri dalam pidato HUT ke-50 PDI Perjuangan beserta tanggapan masyarakat mengenai pidato tersebut. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif dengan menggunakan tinjauan studi pragmatik. Objek penelitian ini adalah tuturan dalam pidato Megawati Soekarnoputri pada perayaan HUT ke-50 PDI Perjuangan. Pengumpulan data diperoleh dengan teknik dokumentasi, simak, catat, wawancara dan transkripsi. Teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan metode padan dan metode agih. Penelitian memperoleh simpulan sebagai berikut. 1) Berdasarkan aspek kesantunan berbahasa, Megawati secara umum mematuhi prinsip-prinsip kesantunan berbahasa. Namun, Megawati lebih dominan menunjukkan pematuhan terhadap maksim kesimpatian dan minim adanya pematuhan maksim kerendahan hati serta maksim kedermawanan. Penggunaan maksim kesimpatian yang dominan mencerminkan upaya Megawati untuk membangun hubungan emosional dan meraih simpati pendengar. Namun, minimnya pematuhan terhadap maksim kerendahan hati dan kedermawanan mengindikasikan adanya keseimbangan yang perlu diperhatikan dalam penyampaian pesan yang lebih egaliter dan empatik. 2) Berdasarkan aspek pelanggaran kesantunan berbahasa, Megawati lebih banyak melakukan pelanggaran terhadap maksim kebijaksanaan dan lebih sedikit adanya pelanggaran maksim kedermawanan. Pelanggaran yang terjadi terutama pada maksim kebijaksanaan menyoroti tantangan dalam menjaga keseimbangan antara menyampaikan pandangan tegas dan tetap menghormati pendengar. 3) Tanggapan masyarakat mengenai pidato Megawati Soekarnoputri dalam perayaan HUT ke-50 PDI Perjuangan juga beragam, terdapat beberapa tanggapan netral, positif, hingga tanggapan negatif yang mencerminkan kompleksitas penerimaan publik terhadap pidato tersebut. Ini menekankan pentingnya mempertimbangkan berbagai aspek kesantunan berbahasa dalam komunikasi publik untuk mencapai pemahaman dan apresiasi yang lebih baik dari audiens. Kata Kunci: bahasa, maksim, masyarakat, pidato, santun. ABSTRACT Nila Handayani. MEGAWATI SOEKARNOPUTRI'S LANGUAGE IN PDI PERJUANGAN'S 50TH ANNIVERSARY SPEECH: A PRAGMATIC STUDY. Thesis. Pacitan: STKIP PGRI Pacitan, 2024. Delivering a speech in a clear, structured, and polite manner ensures that all listeners receive the message effectively. This research aims to describe the forms of adherence to and violations of politeness principles in Megawati Soekarnoputri’s language during the 50th-anniversary speech of PDI Perjuangan and public reactions to the speech. It is a qualitative descriptive study using a pragmatic study approach. The object of research is the discourse in Megawati Soekarnoputri's speech during the 50th-anniversary celebration of PDIPerjuangan. Data collection used documentation techniques, observation, note-taking, interviews, and transcription. Data analysis techniques in this study used the matching and the distribution method. The research concluded the following: 1) In terms of politeness aspects, Megawati generally adheres to the principles of polite language. However, she predominantly demonstrates adherence to the maxim of sympathy and minimal adherence to the maxims of modesty and generosity. The dominant use of the sympathy maxim reflects Megawati’s efforts to build an emotional connection and gain sympathy from the audience. However, the lack of adherence to the maxims of modesty and generosity indicates a need for balance in delivering more egalitarian and empathetic messages. 2) Regarding violations of politeness, Megawati more frequently violates the maxim of wisdom and less often the maxim of generosity. Violations of the wisdom maxim highlight the challenge of balancing expressing views and respecting listeners. 3) Public responses to Megawati Soekarnoputri's speech during the 50th anniversary of PDI Perjuangan are varied, including neutral, positive, and negative feedback, reflecting the complexity of the public reception of the speech. Emphasizes the importance of considering various aspects of polite language in public communication to achieve better understanding and appreciation from the audience. Keywords: language, maxim, society, speech, politeness.

Item Type: Thesis (Other)
Contributors:
ContributionNameEmail
UNSPECIFIEDSUTOPO, BAKTIbktsutopo@gmail.com
UNSPECIFIEDPUTRI, NIMAS PERMATAnimaspermatap@gmail.com
UNSPECIFIEDSUTOPO, BAKTIbktsutopo@gmail.com
UNSPECIFIEDSETYOWATI, ENYenyines76@gmail.com
Subjects: P Language and Literature > P Philology. Linguistics
Divisions: Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Depositing User: Dhita Indah Puspita Rini
Date Deposited: 24 Feb 2025 02:23
Last Modified: 24 Feb 2025 02:23
URI: http://repository.stkippacitan.ac.id/id/eprint/1764

Actions (login required)

View Item View Item